Related Article

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Showing posts with label Story of my baby. Show all posts
Showing posts with label Story of my baby. Show all posts

Thursday, May 7, 2015

Happy Birthday Son..

Anakku..

Apa kabarmu sayang..
Betapa ku rindu padamu
Mengingat wajah kecilmu yang lucu dan tembem itu.
Mungkin saat ini kamu sedang bermain-main bersama Opa disurga ya Nak..

Bolehkah Mami titip pesan pada Nya?
Berikanlah Papi dan Mami adik dari Kakak Omar ya..
dan keikhlasan atas kehendakNya..

Selamat Ulang Tahun anakku Omar Zavier Hamizan Andriarto.
Semoga suatu hari nanti ALLAH SWT akan mempertemukan kita kembali..

Miss you so much..
Mami.

Wednesday, August 6, 2014

Omar Zavier Hamizan Andriarto.. Kekasih Mami dan Papi di surga Allah SWT..




Butuh keberanian untuk membuat tulisan ini, bukan karena aku takut akan mengalami hal yg dialami seperti Prita Mulyasari, tetapi karena berat rasanya mengumpulkan kembali memori kenangan akan kehilangan bayi kami tercinta Omar Zavier Hamizan Andriarto. Saat inipun air mataku kembali mengalir mengingatnya. Tujuan untuk menulis hal inipun sama sekali tidak untuk menjelekan, menghujat atau memprovokasi pembacanya kepada pihak Rumah Sakit atau Dokter yang menangani bayi kami. Melainkan sematamata untuk bisa berbagi pengalaman agar kejadian yang kami alami bisa menjadi tindakan preventif bagi orang tua dan bisa menjadi pelajaran untuk pihak rumah sakit lain dan dokter yang menangani bayi dengan kondisi yang serupa dengan bayi kami.

Setelah 4 tahun lebih menikah, berusaha, memohon dan menunggu, ahkirnya ALLAH SWT mengkaruniai kami dengan kehamilan bayi pertama kami, melalui proses alami. Subhanallah, Alhamdulillah, puji syukur kepadaMu ya Rabb. Air mata bahagia pun mengalir, sujud syukur kami panjatkan kepadaMu. Atas permintaan suami, setelah sebelumnya saya konsultasi dengan Obgyn Pria untuk program kehamilan, “Sekarang cari Obgyn perempuan saja ya?”. Baiklah, atas rekomendasi beberapa teman dan review di blog maupun internet kami memutuskan untuk mencoba konsultasi dengan Dokter Sandra (Bukan nama Dokter sebenarnya) di RSIA yang berlokasi di Jakarta Selatan. RSIA inipun bukan RSIA baru untuk kami karena 2 Kakak, adik maupun beberapa temanpun melahirkan disini. RSIA ini juga menurut pengamatan kami merupakan salah satu RSIA yang paling mahal tarif nya untuk melahirkan di Jakarta. 

Selama proses konsultasi kehamilan Dokter Sandra baik, ramah, dan mau menjawab berbagai pertanyaan yang sering aku ajukan baik konsultasi langsung, maupun melalui whatsapp dan bbm. Seluruh hasil check-up screening, usg, denyut jantung pun selalu normal, tidak pernah ada indikasi apapun terhadap kesehatan bayi Omar. Hanya yang selalu disampaikan adalah “Bu, bayi nya besar, kalau mau melahirkan normal makannya dikurangi ya, terutama makanan yang manis”. Alhamdulillah proses kehamilan berjalan lancar, hingga di minggu ke 38, 4hari, aku mengalami flek dan segera ke RS, setelah dicek dari hasil ctg, kontraksi sudah ada tapi belum teratur dan belum ada pembukaan. Aku diminta untuk pulang kembali. Aku menunggu 9 hari, kontraksi kadang ada, kadang hilang kembali, di hari ke 9 aku datang kembali saat itu sudah 39minggu 5hari, paginya aku cek ctg kontraksi bagus , pembukaan masih 1, sorenya Dokter Sandra datang, kontraksi berkurang, aku kembali diminta pulang, padahal hasil CTG bayi Omar sudah tidak terlalu bagus, aku hanya diberikan teh manis dan makan lalu CTG bayi Omar kembali membaik, dan kembali disuruh pulang karena pembukaan masih 1. Untungnya aku sudah buka kamar perawatan di RSIA tsb, malamnya kontraksi hebat, dicek pembukaan masih 1, setelah subuh aku kembali turun keruang bersalin, cek ctg bayi Omar sudah tidak baik, pembukaan 3, ketuban sudah pecah dan berubah warna. Perawat menghubungi Dokter Sandra, dan Dokter Sandra ternyata dalam perjalanan ke RSCM. Dan tidak bisa datang.

Aku sudah sangat kesakitan, dan Dokter Sandra tidak kunjung datang. Alhamdulillah atas pertolongan ALLAH, ada pasien lain yang baru saja selesai operasi cesar, jadi tim Dokter untuk Operasi Cesar sudah lengkap, Obgyn Amel, Obgyn Rudi , Spesialis Anak Dina, dan Dokter anastesi Eko (semua bukan nama sebenarnya). Alhamdulillah, Bayi Omar dilahirkan di minggu 39, 6hari, pukul 9.25. dengan kondisi asfiksia ringan. Berat Badan 3.54kg, panjang 52cm. APGAR score 7 dimenit pertama. Lalu bayi Omar bisa IMD, menyusui dengan pintar dan semangat, APGAR Score Omar 9 di menit ke 5. Dokter SpA Dina berbicara ke aku saat IMD , “Bu, keputusan operasi secar nya tepat, karena bayi sudah kekurangan Oksigen”.
Setelah operasi cesar, Alhamdulillah aku, bayi Omar, dan suami kembali ke ruang perawatan untuk rooming in. Siang harinya Dokter Sandra datang mengucapkan selamat, sekaligus memberikan penjelasan atas ketidakhadirannya di pagi hari itu. Kemudian aku di cek tensi darah oleh suster,  “180/90 Dok”. Dokter Sandra bilang “Bu, saya khawatir ibu terkena preeclampsia post partum, Ibu kembali ke ruang observasi ya”. Kembali kami turun kembali ke ruang observasi, aku membawa serta bayi Omar. Sampai dibawah ternyata tekanan darah ku hanya 140/90, tes urine hanya positif 1. Tapi tekanan darahku tetap dipantau, sehingga belum diizinkan untuk kembali ke ruang perawatan. Pada saat yang bersamaan dengan visit dari Dokter Anastesi Eko, pukul 17.30 suster masuk “Bu, bayinya dimandikan dulu ya”. Suster mengambil bayi Omar yang dalam keadaan mulut “menempel” di payudara aku, lalu menangis dan dibawa keluar ruangan oleh suster. Dikarenakan adanya visit Dokter Anastesi Eko selama 1 jam, kamipun tidak menyadari bayi Omar belum kembali dari dimandikan, hingga setelah 1jam dikembalikan aku bertanya “ Dedek sudah dimandikan? “, “tidak jadi dimandikan Bun, Cuma dihangatkan”. “Ko tidak dimandikan?”, “Dingin Bun.”.

Akhirnya setelah dicek kondisi tekanan darah ku normal, aku diizinkan kembali ke ruang perawatan. Suster dari ruang perawatan menjemput aku dan bayi, suster melihat bayi Omar biru,”Kok biru?”, lalu segera dibawa ke ruang NICU. Dicek saturasi nya 75-80 (kondisi normal 90), Oleh dr.jaga diberikan oksigen. Saturasi kembali diatas 90.  Oksigen dilepas, selama 5 menit, saturasi stabil diatas 90. Karena kondisi bayi Omar stabil menurut dokter jaga maka diizinkan untuk kembali ke ruang perawatan. Hingga esok paginya , tidak ada visit dari Dokter Spesialis Anak Dina. Keesokan harinya, pada pukul 11.00, Dokter jaga yang lain (yang bergantian jadwal dengan Dokter jaga yang semalam) meminta bayi Omar untuk dicek saturasi oksigennya, dan ditemukan saturasi oksigen nya 71. Kondisi darurat, bayi Omar dirawat di NICU. Tetap tidak ada visit dari Dokter SpA Dina pasca kelahiran bayi, lalu untuk kondisi darurat bayi Omar ditangani oleh Dokter SpA Amelia. yang menyatakan bayi Omar hipoksia, Walaupun hasil cek darah di awal semua dalam range normal, namun Dokter SpA Amelia tetap memberikan antibiotic dan melakukan rontgen kepada bayi Omar. Penjelasan nya adalah untuk mencegah bakteri jika tertelan pada saat ketuban pecah. Dengan bantuan oksigen melalui C-Pep, kondisi bayi Omar dianggap stabil dan diminta untuk di observasi selama 3 hari. Namun di sore harinya, kondisi bayi mengalami perburukan hingga diberikan bantuan melalui ventilator dan diberikan obat bius agar tidak berontak. Dan diperlukan juga transfusi darah. 

Kami hanya bisa menangis memohon kepada ALLAH SWT untuk memberikan kesembuhan kepada bayi kami. Dalam kondisi duduk di kursi roda setelah persalinan cesar, di depan ruang NICU kami terus berdoa kepada ALLAH, masih terus berharap terjadi keajaiban bahwa bayi kami bisa kembali pulih. Hingga kemudian Dokter SpA Amelia menyatakan kondisi bayi kami kritis, dan tidak lama kemudian sudah tidak dapat tertolong. Usia bayi Omar di dunia selama 37 jam. Dunia kami serasa berakhir juga, kesedihan mendalam kami rasakan. Ibuku melalui telf berpesan kepada suamiku untuk menguatkan aku, dengan kondisi fisik pasca operasi cesar, aku pun harus menghadapi kehilangan bayi ku yang amat kucintai dan kunantikan kehadirannya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sesungguhnya kami adalah milik ALLAH dan kepada Nya lah kami kembali. Alhamdulillah, Ya ALLAH, terimakasih engkau telah menitipkan kepada kami bayi yang lucu, tampan dan sehat, aku telah merasakan menjadi Ibu, mengandung selama 9 bulan, melahirkan dan menyusui bayi kami. 

Dalam kondisi berduka, kembali kesabaran kami diuji, di RSIA tersebut tidak ada pelayanan pengurusan jenazah, sehingga suamiku dibantu ayah mertuaku mengurus sendiri proses pemandian jenazah bayi kami. Alhamdulillah, persis di sebelah RSIA tsb ada Masjid. Disanalah aku memandikan bayi Omar untuk pertama dan terakhir kalinya. Lalu dari Masjid didaerah Jakarta Selatan, kami menuju Bekasi untuk memakamkan Bayi Kami. Suamiku mengemudikan sendiri kendaraan dalam kondisi mengantuk dan berduka. Tidak ada penawaran, peminjaman ambulance kepada  kami. Tidak ada satupun pihak Dokter, baik Dokter Sandra ataupun pihak manajemen Rumah Sakit yang datang ke kami sekeluarga dan mengucapkan belasungkawa sebelum bayi Omar disemayamkan. Bayi Omar kemudian di makamkan persis disebelah makam Opanya, ayahandaku. 

Masih dalam kondisi berduka, keluarga dan kami pun berfikir dan mempertanyakan sebenarnya apa penyebab dari kondisi hipoksia bayi Omar, karena pada saat lahir kondisi hipoksia bayi sudah terselesaikan, dengan APGAR SCORE 7/9 dan bayi diizinkan rawat gabung bersama aku dan suami. Dan melihat sertifikat kematian keterangan penyebab kematian bayi adalah hipoksia. Penyebab utama kematian ibu adalah pre-eklampsia, dimana aku selama kehamilan tidak pernah mengalami pre-eklampsia. Lalu, suster yang membawa bayi kami mandi, alas an tidak jadi dimandikan karena dingin, lalu hanya dihangatkan. Apa yang sebenarnya terjadi atas bayi kami saat itu. Atas kondisi tersebut kami meminta pertemuan dengan tim dokter dan suster yang memandikan.

Pada meeting pertama, seluruh tim dokter hadir, diwakilkan oleh,sebut saja, Dokter SpOG Fahmi selaku ketua Komite Medik RSIA tsb, menjelaskan soal Surat Kematian dimana dituliskan bahwa penyebab kematian bayi dari Ibu Preeklampsia karena yang membuat surat tsb adalah Dokter SpA Amelia, yang melihat dari catatan rekam medis Ibu pre eklampsia. Padahal, apa yang dialami oleh aku adalah pre eklampsia post partum. Sesudah kelahiran tidak akan menyebabkan bayi hipoksia. Logikanya, bayinya sudah diluar, sudah lahir, tentu saja tidak ada pengaruh nya lagi kepada bayi. Lalu saat aku meminta penjelasan sebab lainnya dari hipoksia bayi Dokter SpOG Fahmi bilang pertemuan pertama bukan untuk menjelaskan hal sedetail itu. Maka, kami dengan sabar menunggu ke pertemuan ke dua. Setelah menunggu 2 minggu, ternyata, semua Dokter yang menangani aku dan bayiku tidak hadir. Tentu saja seluruh pertanyaan kami tidak terjawab dengan jelas. Kenapa kalau bayi kami tidak sehat, biru, atau kekurangan oksigen setelah lahir tidak diobservasi dan justru diizinkan untuk rawat gabung oleh Dokter SpA Dina, apa yang dilakukan oleh suster saat memandikan bayi kami pukul 17.30 ? Apa suster berwewenang untuk menghangatkan bayi sendiri tanpa pengawasan Dokter SpA? Setelah bayi diberikan oksigen oleh Dokter jaga apa sudah menghubungi Dokter SpA Dina? Kenapa Dokter SpA Dina tidak pernah visit jika sudah dihubungi oleh Dokter jaga ?

Dengan kondisi kecewa yang menumpuk, atas keterangan pihak Manajemen yang diwakili Direktur Medik RSIA tsb, kami masih bersabar karena dijanjikan bahwa Dokter yang menangani, dan perawat akan hadir di meeting ke tiga. Datang di meeting ke tiga, tim Dokter ternyata masih tetap tidak hadir. Penjelasan dari Direktur Medik, bahwa manajemen sudah mengundang secara resmi seluruh Dokter penanggung jawab. Dan Dokter-doker tersebut sudah mengatakan kesanggupannya untuk hadir. Namun, ditunggu tetap tidak hadir. Sungguh, kamipun automatis mempertanyakan ”power” dari manajemen RSIA ini. Sedemikian lemahnya kah, terhadap Dokter dan suster yang bertugas di RSIA tersebut. Hingga, undangan resmi dianggap lalu begitu saja? Kalau pihak Direktur Medik saja dianggap lalu, apalagi kami ini pasien? Cuma dianggap sebagai sumber penghasilan saja barangkali. Alhamdulillah, pada saat itu kami sekeluarga didampingi oleh dr. SpOG Firman (bukan nama sebenarnya) yang mampu menjelaskan dari sudut pandangnya bahwa untuk kasus ini , hubungan bukan lagi Dokter dan pasien tetapi manusia dengan manusia. Memang butuh kebesaran hati dari para Dokter yang menangani bayi kami untuk berhadapan dengan kami sekeluarga. Menurut Dokter Firman, lebih baik saya dimaki-maki pasien daripada diinterogasi pihak MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia). Dengan mediasi dari Dokter Firman, Alhamdulillah kami memperoleh kesepakatan bahwa pihak RSIA akan memberikan surat permohonan maaf, berjanji akan melakukan perbaikan agar hal ini tidak terjadi pada pasien lainnya, dan mencantumkan ucapan belasungkawa di Koran kompas, republika, dan media Indonesia. 

Pada meeting ke empat, akhirnya seluruh Dokter hadir, kecuali Dokter SpA Amelia yang merawat bayi Omar di NICU tidak hadir. 2 orang perawat yang memandikan bayi juga hadir. Penjelasan tetap diwakili oleh Direktur Medik dan Ketua Komite Medik. 
  1. Kondisi bayi hipoksia kenapa tetap di izinkan rooming in ? Jawab : Bahwa setelah lahir dan diberikan oksigen, bayi tidak biru dan dinilai sehat maka diizinkan rooming in. APGAR Score : 7/9
  2. Apakah Dokter Jaga menghubungi Dokter Spesialis Anak Dina setelah Bayi Omar diketahui biru untuk pertama kalinya ? Jawab : Dokter jaga sudah menghubungi Dokter Spesialis Anak Dina, dan menghimbau kepada Dokter jaga untuk waspada. Disini aku pun memceritakan bahwa sungguh aneh, dokter jaga diminta untuk waspada, tapi tidak ada pengecekan sama sekali kepada bayi Omar, di stetoskop pun tidak, hingga dokter jaga berganti jadwal dengan dokter jaga lain keesokan harinya. Tidak ada penjelasan atau sanggahan apapun dari Manajemen RSIA dan tim Dokter terkait hal ini.
  3. Kenapa Dokter Spesialis Anak Dina, tidak pernah visit walau sudah diinfokan oleh Dokter jaga bahwa bayi Omar biru ? Jawab : Karena menunggu jadwal praktek Dokter. Biasanya Dokter menyesuaikan jadwal visit dengan jadwal praktek nya.
  4. Kenapa bayi dimandikan pukul 17.30 dan apa yang dilakukan oleh suster ? Jawab : Suster memandikan bayi karena disuruh oleh atasannya yang menyatakan bahwa ayah bayi meminta bayi dimandikan. Karena terlihat biru bayi diukur suhu, lalu dihangatkan. Menurut Suster, suster telah menginformasikan kepada ayah bayi kalau bayi biru dan dihangatkan. Suster tidak menginformasikan kepada Dokter Spesialis Anak bahwa Bayi Omar biru.
Atas jawaban bahwa suamiku sudah diberitahu kalau bayi omar biru, suamiku tahu bahwa suster itu berbohong, Ia hanya berdoa didalam hatinya “Ya Allah, berilah mereka balasan setimpal”. Bahwa apapun penjelasan yang dijelaskan oleh suster bahwa kondisi bayi sudah biru dan mereka tidak melakukan apapun yang bisa mempengaruhi kesehatan bayi Omar, hanya menjadi rahasia antara mereka dan ALLAH SWT yang tahu akan kebenarannya. Dan aku yakin suatu saat kebohongan yang ditutupi akan terungkap juga. 

5. Jadi apa sebenarnya penyebab hipoksia bayi Omar ? Jawab: Tim dokter tidak dapat mengetahui hal tersebut. Kalaupun dikatakan terdapat penyakit jantung bawaan, tidak akan diketahui apalagi Dokter Spesialis Anak tidak pernah visit, idealnya di rujuk ke pediatric cardiologist. Namun, dari artikel yang aku pernah baca pada jurnal kedokteran, bahwa bayi dengan penyakit jantung bawaan (PJB) kritis cirinya adalah (1)jika bayi biru lalu diberikan oksigen bayi dan tetap biru kemungkinan besar terdapat PJB. Berdasarkan penjelasan Dokter SpA bayi Omar tidak biru (2) jika bayi tidak terlihat biru, tapi mengidap PJB bayi tidak akan bisa menyusui. Jelas bayi Omar bisa IMD dan menyusui dengan baiknya. Pun sebelum bayi Omar masuk NICU dengan saturasi oksigen 71 masih sempat menyusui. Jadi apa penyebab dari hipoksia bayi Omar tim Dokter tidak mengetahuinya. 

Adapun pihak RSIA telah memberikan keterangan secara tertulis terhadap kekurangan mereka sebagai berikut :
  1. Petugas dalam memandikan bayi tidak sesuai dengan waktu yang sebenarnya
  2.  Petugas yang tidak berkomunikasi dengan baik kepada Dokter maupun pasien
  3. Visit Dokter yang belum sesuai dengan harapan
  4. Pelayanan jenazah yang belum dikelola dengan baik
Langkah-langkah perbaikan yang sedang mereka lakukan adalah sebagai berikut :
  1. Melakukan pembinaan kepada pertugas terkait
  2. Mengevaluasi visit dokter di lingkungan RSIA
  3. Melakukan penjajakan dengan pihak ke 3 dalam pengelolaan pelayanan jenazah
  4. Merencanakan pelatihan bagi petugas dalam menghadapi kondisi kemalangan
Apapun yang telah terjadi sudah merupakan Qada dan Qadar dari ALLAH SWT, kita sebagai manusia hanya bisa mengambil pelajaran dan memperbaiki kekurangan. Aku, suami dan keluarga besar pun menyadari bahwa kesalahan adalah sifat yang dimiliki setiap manusia. Hanya sebagai manusia kadang kita sulit untuk mengakui kesalahan ataupun maafkan kesalahan. Amat disayangkan Dokter Sandra tidak pernah mengucapkan kata “Maaf” kepada kami sekeluarga, padahal satu kata itu memiliki arti yang mendalam bagi kami, mengingat kami meng-amanah kan proses kehamilan dan kelahiran bayi kami kepadanya dan di pagi hari H, dia tidak mengusahakan untuk menengok kembali pasiennya justru malah pergi ke RSCM. 

Memaafkan kesalahan itulah yang harus aku lakukan untuk kasus ini, aku juga mengharapkan pahala sebesar-besarnya dan ampunan dari ALLAH SWT. Sebagaimana firman ALLAH SWT di Surat Al Baqarah ayat 216: “Boleh jadi  kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik untukmu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. In sya ALLAH apa yang terjadi pada diri kami merupakan yang terbaik menurut ALLAH, dan kami dapat lulus dari ujian ini, saat ini yang dapat kami lakukan adalah memperbaiki diri, memantaskan diri untuk dapat disambut dengan bangga oleh Putra kami Omar Zavier Hamizan Andriarto di surga ALLAH SWT. Semoga ALLAH SWT memberikan kepercayaan kepada kami lagi, untuk dapat memelihara titipan Nya, adik-adik Omar, dan suatu saat nanti di kehidupan yang kekal kami akan berkumpul bersama-sama di akhirat di surga ALLAH SWT. AMIN YA RABBAL ALAMIIN.